Teknologi telah mempengaruhi berbagai industri penting, salah satunya konstruksi. Digitalisasi pada industri konstruksi memberikan dampak yang besar terhadap nilai-nilai dalam dunia konstruksi, salah satunya yakni keselamatan dan kesehatan kerja. Seperti yang sudah diketahui, industri konstruksi memiliki tingkat risiko kecelakaan yang tinggi. Adanya digitalisasi pada keselamatan dan kesehatan kerja di industri konstruksi membawa K3 ke level yang lebih tinggi dan minim akan kecelakaan kerja berisiko tinggi.
Pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Sektor Industri Konstruksi
Untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja sektor industri konstruksi, Pemerintah Indonesia mengeluarkan berbagai regulasi, salah satunya Undang-undang Nomor 2 tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi. Undang-undang ini mengatur segala aspek yang berkaitan dengan penyelenggaraan jasa konstruksi di Indonesia. Selain itu, undang-undang ini bertujuan untuk memberikan perlindungan dan kepastian hukum bagi semua pihak yang terlibat dalam jasa konstruksi, termasuk pekerja, pengguna jasa, dan penyedia jasa.
Baca juga: Alasan Mengapa Perusahaan Konstruksi Perlu Membangun Sistem K3
Penerapan K3 dalam industri konstruksi memiliki manfaat baik untuk pekerja maupun perusahaan, seperti:
1. Mengurangi Risiko Kecelakaan Kerja
Dengan menerapkan standar K3, kecelakaan kerja dapat diminimalkan. Hal ini akan melindungi pekerja dari cedera serius bahkan kematian.
2. Meningkatkan Produktivitas
Pekerja merasa yang aman dan sehat akan bekerja lebih efisien dan produktif. Ini juga akan mengurangi waktu yang terbuang akibat kecelakaan kerja atau penyakit yang disebabkan oleh kondisi kerja yang buruk.
3. Mengurangi Biaya
Kecelakaan kerja dapat menimbulkan biaya yang besar berupa perawatan medis, kompensasi untuk pekerja, atau kerugian akibat terhentinya proyek konstruksi. Dengan menerapkan K3, perusahaan dapat mengurangi biaya-biaya tersebut.
4. Mematuhi Regulasi
Menerapkan K3 juga merupakan bukti kepatuhan dan kewajiban hukum bagi setiap penyedia jasa konstruksi. Ketidakpatuhan dapat berakibat pada sanksi hukum yang serius.
Bagaimana Digitalisasi Mempengaruhi K3 di Sektor Konstruksi
Digitalisasi juga mempengaruhi K3 pada sektor konstruksi. Berikut merupakan teknologi dan digitalisasi yang membantu K3 dalam proyek konstruksi:
1. Monitoring secara Real-Time
Teknologi sensor IoT (Internet of Things) digunakan untuk memantau kondisi keselamatan para pekerja konstruksi secara real-time, seperti sensor yang mendekati kebocoran gas, suhu yang ekstrem, atau bahaya lainnya. Sensor akan mengirimkan sinyal pemberitahuan langsung kepada pekerja dan manajemen.
2. Simulasi dan Virtualisasi
Sebelum pekerjaan konstruksi dimulai, teknologi ini dapat melakukan simulasi keselamatan di mana skenario potensi bahaya dapat disimulasikan untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah sebelum peristiwa terjadi di lapangan.
3. Penggunaan Drone
Drone digunakan untuk memantau kesehatan pekerja seperti pemakaian peralatan pelindung diri (APD) dan kondisi fisik pekerja secara terus menerus. Mereka dapat memberikan pandangan yang lebih luas dan mendeteksi potensi bahaya dari udara.
4. Pemantauan Kesehatan
Penggunaan teknologi juga dapat digunakan untuk memantau kesehatan pekerja seperti pemakaian peralatan pelindung diri (APD) dan kondisi fisik pekerja secara terus menerus. Hal ini juga dapat dilakukan dengan perangkat wearable atau sensor yang terintegrasi dengan APD.
5. Pelatihan Virtual
Untuk mengurangi risiko cedera di lapangan, teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) digunakan untuk melatih pekerja dalam lingkungan simulasi yang aman, di mana mereka dapa berlatih prosedur kerja tanpa risiko nyata.
6. Manajemen Risiko dan Analisis Data
Data yang besar (big data) dan analitik dapat digunakan untuk menganalisis tren keselamatan dan kesehatan kerja dari proyek-proyek sebelumnya. Hal ini cukup membantu dalam mengidentifikasi pola-pola yang dapat menunjukkan potensi bahaya atau area yang perlu diperbaiki.
7. Kolaborasi Digital
Kolaborasi digital memungkinkan pemangku kepentingan seperti pemilik proyek, kontraktor, dan subkontraktor memiliki informasi keselamatan dan kesehatan kerja secara real-time, koordinasi yang baik, dan respon yang cepat terhadap situasi darurat.